Artikel

Garam Dari Zaman Kuno

Garam dari zaman kuno, diperkirakan awalnya zaman neolitikum. Tapi rasa asin pada makanan sudah lama dilakukan manusia seribu abad sebelum pada zaman neolitikum tersebut. Sebelum manusia menemukan cara memproduksi garam, memberikan rasa asin pada makanannya dengan menggunakan air laut, akan tetapi rasa tersebut akan segera hilang saat selesai dimasak atau dibakar.

Garam juga merupakan komoditas yang sangat berharga. Tak salah kiranya kemudian di Tiongkok pernah dikenakan pajak atas garam. Pajak tersebut seiring dengan berjalannya waktu beralih menjadi pajak atas perdagangan garam. Saking berharganya garam dapat dilihat pada zaman Romawi, pembayaran gaji diberikan dalam bentuk garam.

Garam telah digunakan sebagai pengawet makanan alami, untuk mengawetkan ikan dan daging sehingga tahan lama dalam penyimpanannya. Proses pengasinan yang melibatkan penambahan garam dalam bahan makanan, untuk mengeringkan mikroba melalui osmosis,garam, sehingga menambahkan, Menghambat pertumbuhan bakteri (biasanya Clostridium botulinum) dan dengan demikian, mencegah pembusukan makanan. Selain memberikan sebuah perisai dari mikroba, garam juga melindungi makanan dari ragi dan jamur. Telah diamati bahwa daging disembuhkan bertahan lebih lama daripada yang segar.

Dalam buku Cambridge World History of Food, Kenneth F. Kiple dan Kriemhild Conee Ornelas menuliskan bahwa pada masa awal produksi garam yang sekarang kita kenal, yaitu Natrium Klorida (NaCl) dilakukan dengan beberapa metode seperti dengan menguapkan air laut dengan bantuan sinar matahari, mendidihkan air yang mengandung garam sehingga terbentuk lapisan garam sampai ke penambangan garam yang sudah membatu karena proses alam di sumber-sumber air garam.